harga genset perkins 500 Kva

Ide Arsitektur untuk Rumah dan Hotel

Posted on

Dunia gambar sudah dekat dengan Dedi Kusnadi sejak di bangku sekolah dasar. Hal ini juga dipengaruhi tempat tinggalnya yang berada di salah satu kawasan heritage di kota Bandung. Hampir setiap saat, Dedi kecil hingga remaja melewati dan berkeliling kota ini menikmati bangunan. Puncaknya saat memasuki akhir masa SMA, ketertarikannya pada desain arsitektur kian kuat. Ini pula yang mengantarkannya memilih Jurusan Arsitektur, Universitas Parahyangan Bandung.

Dilatarbelakangi ayah yang seorang sastrawan dan ilmuwan Biologi, paman dan bibi seorang dokter, Dedi sempat berada di persimpangan jalan, harus menyenangkan orangtua atau memilih pangilan hati. “Ayah meminta untuk kuliah di Kedokteran dan saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Namun disaat yang sama, juga diterima di Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan. Butuh waktu yang lama untuk merenung, sampai satu momen ayah saya memberi kebebasan mengambil keputusan,” kata Dedi terkenang. Sampailah Dedi di jurusan Arsitektur, kuliah perdana menjadi hari penting dan bersejarah, karena ia begitu meyakini akan pilihannya yang tepat.

harga genset perkins 500 Kva

Di semester awal kemampuan gambarnya kian terasah dan ingin mengalinya lebih dalam lagi. Dedi yang berasal dari keluarga sederhana, memutuskan untuk magang atau kerja sambilan di selasela kuliahnya. Maka selama tujuh tahun, Dedi baru bisa menyelesaikan studinya. “Butuh tujuh tahun menyelesaikan studi, karena memang terlena dengan pekerjaan. Namun dari situlah saya belajar banyak ilmu terapan yang tidak didapat di kuliah,” kenangnya.

Dalam kurun waktu itulah Dedi membantu senior yang mempunyai konsultan hinga lulus pun tetap bekerja di tempat yang sama. Cukup menimba ilmu di tempat senior, Dedi memutuskan mencari pekerjaan di Jakarta. Hadiprana menjadi ‘kampus’ berikutnya selama 12 tahun (1990-2002). Di konsultan ini, banyak proyek rumah, mal, hotel hinga perkantoran yang ditanganinya. “Saya matang saat di Hadiprana, pengalaman yang luar biasa dan ilmu yang banyak. Lalu saya merasa tertantang untuk melakukan hal lain dan ‘menamatkan’ studi di konsultan ini,” kata Dedi.

Di bawah bendera Kusnadi Architect, Dedi mengerjakan berbagai proyek properti. Ada banyak rintangan dan tantangan, hinga satu waktu Dedi bergabung dengan kawannya mendirikan konsultan. Itu pun tidak berjalan lama sampai akhirnya Dedi bertemu kembali dengan Arif, kliennya saat di Hadiprana. “Obrolon yang tadinya mendesain proyek rumah yang ditujukan untuk keluarga besar Arif, bergeser menjadi share project, karena beliau memang bergerak dibidang kontraktor.

Cukup lama berkolaborasi dalam mengerjakan berbagai proyek, sampai pada keputusan untuk bekerja sama lalu lahirlah NAD pada 2015 dan rumah yang saya kerjakan menjadi kantornya,” kata Dedi. NAD (Nawaetu Abdala Dhakara) lahir dari niat untuk bersama-sama maju dalam mengapai kesuksesan, rumah untuk kantor dedi tersebut di lengkapi dengan genset perkins. Dengan adanya genset perkins tersebut Dedi tidak perlu khawatir lagi akan terganggunya pekerjaan meskipun listrik PLN di rumah nya dilakukan pemadaman. Harga genset perkins pun bervariasi tergantung kapasitas yang digunakan.

Dedi berharap semua karyanya diapresiasi. “Kebahagiaan terbesar seorang arsitek adalah saat karya tersebut mendapat apresiasi yang tingi dari pemilik,” kata Dedi. Kepuasan klien menjadi tujuan utama Dedi dalam mendesain. “Karena mereka yang akan menempatinya dalam waktu lama, dan harus mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dari rumah sebelumnya,” kata Dedi. Berkarya dengan jujur dan sederhana, kunci sukses Dedi. Jujur untuk mengatakan apabila keinginan klien kurang tepat secara arsitektur, menyarankan dengan sebaikbaiknya, memuliakan keinginan seluruh angota keluarga dan memulainya dengan desain yang sederhana. “Dalam desain, selain memenuhi keinginan klien, idealisme arsitek juga harus ditanam sehinga lahir karya yang baik.

Namun tidak mengesampingkan unsur lokal dimana rumah itu berada. Misal karena berada di iklim tropis, maka saya selalu menyarankan desain atap, bukaan sirkulasi, layout ruang, dan lainnya. Saya tidak mematok diri pada langam desain tertentu, berkarya harus dengan baik, jujur, sederhana, dan fungsinya benar. Badannya dulu saya buat enak dan nyaman, kalau tampilan bisa saya ikuti,” tegas Dedi yang kerap memperlakukan kliennya seperti keluarga.

Menghadapi karakter klien yang berbeda, Dedi melakukan pendekatan kekeluargaan. Dimulai dari obrolan dengan pemilik dan seluruh angota keluarga. Terutama mengenai kegiatan sehari-hari, kebutuhan dan keinginan masing-masing, hobi, kebiasaan anak (terutama yang sudah beranjak remaja), akses dan waktu pulang ke rumah, hinga siapa yang memasak. Dari situ Dedi mengolahnya dalam bentuk desain. “Desain rumah harus sesuai dengan kebiasaan pemilk dan bisa mewadahi semua kebutuhan angota keluarga, sehinga mereka nyaman berada di dalamnya,” terang Dedi.